Kamis, 11 Maret 2010

MANAJEMEN HUMAS

CORPORATE PUBLIC RELATIONS DAN

MARKETING PUBLIC RELATIONS

Apakah Public Relations sama dengan Marketing?

Menurut pakar public relations = khalayak sasaran keduanya berbeda,

Public Relations sasaran targetnya publik (stakeholders),

Marketing mempunyai sasaran tembak target market (pasar).

Marketing dengan sasaran target market, maka segala cara dan teknik digunakan untuk menghasilkan pendapatan sesuai dengan target perusahaan, maka marketing hanya mengejar target jangka pendek yaitu laba sebanyak-banyaknya.

Tapi kalau Public Relations dengan target publik, bekerja untuk mencapai target jangka panjang, yaitu kepuasan, saling pengertian, loyalitas, dan citra yang baik dari khalayak.

MPR adalah bagian dari kegiatan pemasaran,

Penanggungjawab tertingginya adalah pemasaran,

Objective dari kegiatan MPR adalah mendukung objective di bidang pemasaran. MPR berada dibawah manajer pemasaran dan manajer pemasaran tergantung dari strukturnya, bisa berada di bawah direktur pemasaran atau langsung dibawah dirut, presdir atau CEO (Chief Executif Organize).

Salah satu yang dianjurkan adalah mendelegasikan kampanye-kampanye Public Relations yang ditujukan kepada konsumen pada manajer pemasaran. Untuk menjalankan kegiatannya, orang-orang pemasaran bisa meminta bantuan Corporate Public Relations karena keahlian CPR memang murni di bidang PR.

CPR adalah suatu staf khusus dibawah CEO atau dirut atau presdir.

Levelnya adalah level korporat.

Target sasaran dari CPR adalah stakeholders yaitu mereka mempertaruhkan

hidupnya pada dan untuk perusahaan. Mereka juga disebut target publik dan terdiri atas pemegang saham, manajemen, karyawan, konsumen, pers, akademisi, dan sebagainya.

Maka disini hubungan antara MPR dengan CPR dinyatakan dalam garis putus-putus ke arah CPR (ke atas).

Mengapa CEO berada di dekat CEO, presiden, atau dirut?

Karena :

1. CPR mempunyai tugas yang sensitif, yakni menjaga kepuasan para stakeholders termasuk pemegang saham dan pemerintah.

2. CPR bertanggungjawab terhadap pencegahan dan pemecahan masalah/krisis yang dapat mematikan perusahaan. Pekerjaan-pekerjaan ini membutuhkan kedekatan CPR dengan pemimpin puncak dan memerlukan dukungan penuh dari pimpinan puncak, atau di Indonesia dalam hal ini adalah pemegang saham mayoritas.

Hal yang sangat penting untuk diketahui, bahwa MPR bekerja untuk mengejar sasaran target market, dengan menggunakan prinsip-prinsip dan metode PR.


MANAJEMEN

Menurut G. Terry : proses mencapai tujuan dengan menggerakkan orang lain.

Untuk mencapai tujuan manajemen maka harus ada aktifitas-aktifitas / kegiatan- kegiatan manajemen.

Kegiatan-kegiatan manajemen merupakan fungsi manajemen yang meliputi Planning (P), Organizing (O), Actuating (A), Controlling (C). Dan bidang garap dari fungsi manajemen adalah 6 M (Men, Material, Method, Market, Money, Machine). Dimana 6 M ini tempatnya berada pada fungsi-fungsi organisasi, yaitu marketig, finance, administrasi, produksi, dan litbang.

Dengan adanya problem internal dan eksternal perusahaan, maka harus ada strategic management yaitu short time dan long time.

Ciri-ciri berpikir strategic:

  1. Level korporat = company= level atas
  2. Lintas sektoral dan holistic
  3. Berjangka panjang = a. Baru diketahui hasilnya setelah jangka panjang

b.Berhasil/gagal, akan berdampak lama / panjang

4. Membutuhkan resourcher besar (SDM)

Kontribusi Public Relations:

  1. Menyampaikan fakta dan opini, baik dari dalam dan luar perusahaan, yang diperoleh dari :

Ø klipping media massa dalam kurun waktu tertentu,

Ø dengan melakukan penelitian terhadap naskah pidato pimpinan,

Ø bahan yang dipublikasikan perusahaan, dan

Ø melakukan wawancara tertentu dengan pihak berkepentingan atau dianggap penting.

  1. Menelusuri dokumen resmi perusahaan dan mempelajari perubahan yang terjadi secara historis.
  2. Melakukan analisis SWOT.

S = Strengths (kekuatan)

W = Weaknesses (kelemahan)

O = Opportunities (peluang)

T = Threats (ancaman)

S + W = unsur-unsur dari dalam perusahaan

O + T = unsur-unsur dari luar perusahaan = lingkungan dimana ia berada = peraturan
pemerintah, kecemburuan masyarakat, nilai masyarakat, perubahan struktur
kependudukan, pandangan yang tengah beredar di masyarkat, situasi ekonomi,
perubahan politik, tekanan yang muncul dari enviromentalist, dan sebagainya.


MANAJEMEN HUMAS

Aktivitas manajemen George R. Terry (1972):

sebuah proses khas yang terdiri dari tindakan-tindakan: perencanaan, pengorganisasian, penggiatan, dan pengawasan yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya.

Jelas dalam definisi diatas, bahwa fungsi pokok atau tahapan-tahapan dalam manajemen, menurut Basu Swastha DH (1996) adalah proses dari tindakan untuk melakukan hal-hal berikut:

  1. Planning (perencanaan),

Penetapan tujuan dan standar, penentuan aturan dan prosedur, pembuatan rencana serta ramalan (prediksi) yang diperkirakan akan terjadi.

2. Organizing (pengorganisasian)

Pemberian tugas yang terpisah kepada masing-masing pihak, membentuk bagian, mendelegasikan dan menetapkan jalur suatu wewenang/tanggungjawab dan sistem komunikasi, serta mengkoordinir kerja setiap karyawan didalam satu tim kerja yang solid dan terorganisir.

3.Penggiatan (actuating),

Dalam penggiatan ini terdapat dua pekerjaan yaitu staffing (penyusunan) dan leading (memimpin), fungsi staffing meliputi: penentuan dan persyaratan personel yang dipekerjakan, menarik dan memilih calon karyawan, menentukan job description dan persyaratan teknis suatu pekerjaan, penilaian, pelatihan, termasuk pengembangan kualitas dan kuantitas karyawan sebagai acuan untuk penyusun- an setiap fungsi dalam manajemen organisasi.

Fungsi leading meliputi: membuat orang lain melakukan pekerjaan, mendorong dan memotivasi bawahan, serta menciptakan iklim atau suasana pekerjaan yang kondusif, khususnya dalam metode komunikasi dari atas ke bawah dan sebaliknya, diharapkan timbulnya saling pengertian dan kepercayaan yang baik. Menumbuhkembangkan disiplin kerja dan sense of belonging pada setiap karyawannya, serta jajaran manajemen (publik internal).

4. Pengawasan (Controlling)

Fungsi terakhir manajemen ini mencakup: persiapan suatu standard kualitas dan kuantitas hasil kerja, baik berbentuk produk maupun jasa yang diberikan perusahaan/organisasi dalam upaya pencapaian tujuan kepuasan bersama, produktivitas dan terciptanya citra yang positif.

Peranan public relations dalam sebuah organisasi berkaitan dengan tujuan utama dan fungsi-fungsi manajemen perusahaan.

Fungsi dasar manajemen tersebut merupakan suatu proses kegiatan atau pencapaian suatu tujuan pokok dari organisasi/lembaga, dan biasanya berkaitan dengan memanfaatkan berbagai potensi sumber-sumber (sumber daya) yang dimiliki oleh organisasi/lembaga bersangkutan, unsur-unsur sumber daya tersebut dinamakan dengan

6-M

ENAM M

(Men) sumber daya manusia

(Material) sumber material/barang yang dikuasai

(Machine) alat atau perkakas mesin yang dimiliki

(Money) kemampuan keuangan

(Method) metode yang dipergunakan

(Market) perluasan/pemasaran yang hendak dicapai/dituju

Public Relations mempunyai banyak definisi dan pengertian, beberapa diantaranya:

1. The British Institute of Public Relations menyatakan:

  1. “Public Relations activity is management of communications between an organization and its publics.”
  2. “Public Relations practice is deliberate, planned and sustain effort to establish and maintain mutual understanding between an organization and its publics”.

2.Rumusan Dr. Rex Harlow yang mengatakan:

“Public Relations adalah fungsi manajemen yang khas dan mendukung pembinaan, pemeliharaan jalur bersama antara organisasi dengan publiknya, menyangkut aktivitas komunikasi, pengertian, penerimaan dan kerjasama; melibatkan manajemen dalam persoalan/permasalahan, membantu manajemen mampu menanggapi opini publik; mendukung manajemen dalam mengikuti dan memanfaatkan perubahan secara efektif; bertindak sebagai peringatan dini dalam mengantisipasi masalah ;kecenderungan menggunakan penelitian serta teknik komunikasi yang sehat dan etis sebagai sarana utama.


MENETAPKAN OBJECTIVE

Objective adalah titik spesifik yang hendak dituju.

Dengan berkembangnya konsep-konsep manajemen, belakangan ini perusahaan modern telah mampu menetapkan secara spesifik ke mana perusahaannya hendak dibawa. Titik yang spesifik ini disebut corporate goals. Ada dua macam corporate goals, yakni:

  1. Official Goals (mission)

- Maksud perusahaan didirikan.

- Isinya terlampau umum dan sangat idealis.

- Digunakan oleh perusahaan untuk mendaftarkan perusahaan secara hukum. Tampak dalam akte pendirian perusahaan.

- Isinya mencakup ruang lingkup usaha, pasar yang hendak dijangkau, dan nilai-nilai yang digunakan.

  1. Operative Goals

- Penjabaran yang lebih realistis atas operasi perusahaan

- Mendeskripsikan hasil akhir yang spesifik dan dapat diukur. Biasanya lebih bersifat jangka pendek.

- PRO dalam merumuskan objective akan berpegang pada operative terutama yang menyangkut overall performance, yang berbicara tentang prestasi keuangan (laba neto, harga saham per-lembar, dividen per saham, return on investment, dsb)

Objective PR : sebagai suatu pernyataan tertulis dan jelas tentang hal-hal yang mesti dicapai pada bagian PR selama kurun waktu tertentu (mis. Setahun), dengan menggunakan ukuran tertentu yang masuk akal, dan konsisten dengan objective perusahaan secara menyeluruh (overall company objectives).

Objective PR sebaiknya masuk akal dengan tidak menyimpang dari perencanaan menyeluruh perusahaan dan harus sesuai dengan kemampuan PR untuk melaksanakannya

Syarat objective PR :

  1. Tertulis.
  2. Jelas dan singkat.
  3. Spesifik pada batasan tertentu.
  4. Batasan waktu yang spesifik.
  5. Ukuran yang terukur.
  6. Konsisten dengan objective perusahaan secara menyeluruh.
  7. Dapat dijangkau, tetapi tetap memberi tempat yang menantang untuk merangsang usaha.

Dasar penentuan objective:

  1. Riset
  2. Dukungan pimpinan puncak/pemegang saham


R I S E T

Dalam dunia PR, riset dapat didefinisikan sbb: riset merupakan cara pengumpulan informasi secara sistematis yang bertujuan untuk menggambarkan atau memahami suatu keadaan tertentu, serta mengadakan pengecekan asumsi-asumsi terlebih dahulu yang terdapat dalam publik dan kkonsekuensi-konsekuensinya dalam upaya membina hubungan masyarakat.

Jadi dapat disimpulkan bahwa riset dibutuhkan untuk mengumpulkan fakta dan evaluasi sehingga pada saat itulah praktisi melakukan pengukuran atas kegiatan yang dilakukan dan mengecek seberapa jauh hasilnya.

Cara atau metode riset PR ada 3 macam:

  1. Penelitian Informal.

Dilakukan dengan wawancara secara sistematis dan dicari informasi dari sumber-sumber lain yang menjadi sasaran. Penelitian informal memerlukan cara pandang yang menyeluruh dari PRO. Penelitian ini dilakukan dengan pertimbangan: a) Anggaran PR yang belum memadai; b) Mencegah timbulnya keresahan bila perusahaan melakukan pemeriksaan secara formal.

Untuk melakukan penelitian ini dapat dibentuk sebuah tim yang besar anggotanya sangat ditentukan oleh berapa besar perusahaan dan berapa kompleks permasalahan yang perlu ditangani.

  1. Penelitian Sekunder

PR melakukan analisis terhadap (a)data-data sekunder dari sumber-sumber lain, termasuk skripsi mahasiswa, surat kabar,majalah, jurnal ilmiah, laporan tahunan pesaing, laporan statistik dsb. (b) Perpustakaan yang mendokumentasikan sumber.

  1. Penelitian Formal

Penelitian formal pada umumnya sudah bukan menjadi pekerjaan utama seorang PRO. Perusahaan dapat menggunakan jasa konsultan atau perusahaan jasa penelitian dari lembaga swasta atau universitas. Alasannya adalah keahlian profesional, efisiensi waktu, proses belajar, dan obyektivitas yang dimiliki pihak ketiga.

Hal-hal yang perlu ditetapkan dalam melakukan riset formal adalah:

    1. Siapa yang akan diteliti (sample respondent).
    2. Berapa jumlah responden yang representatif (sample size)
    3. Berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai dapat diperoleh hasil kesimpulan?
    4. Berapa besar anggarannya?
    5. Bagaimana bentuk penelitian yang akan dilakukan?

PRESS RELEASE

Press Release adalah segala bentuk informasi yang hendak disebarkan kepada pers, biasanya media cetak. Sekalipun press release mempunyai format umum, ada tiga bentuk yang mempunyai penekanan berbeda.

  1. Basic Publicity Release

Meliputi informasi umum yang mengandung nilai berita (news value) bagi media-media lokal, regional, atau nasional.

  1. Product Release

Informasi yang disebarkan berkaitan dengan peluncuran produk-produk baru atau berkaitan dengan produk perusahaan. Meski akan sangat menguntungkan bagi perusahaan bila berita ini dipublikasikan di media umum, media yang berkepentingan umumnya adalah media spesifik.

  1. Financial Release

Meski informasi keuangan petama-tama menjadi kepentingan pemegang saham, release ini sering juga dapat menjadi konsumsi umum bila menyangkut perusahaan besar atau nilai keuangan yang besar.

Para editor surat kabar dan majalah mempunyai kriteria yang berbeda untuk menerima atau menolak suatu press release. Namun biasanya mereka akan sangat memperhatikan siapa anda dan bagaimana record mengenai saudara di masa lalu dalam menyampaikan berita. Apakah saudara dapat dipercaya (punya kredibilitas), cukup terbuka, dibutuhkan oleh pers, dan apakah berita-berita yang selama ini disajikan cukup relevan dengan filosofi yang dianut media tersebut.

Editor juga melihat hal-hal dibawah ini:

  1. Judul yang diangkat

Judul harus menarik perhatian dan mewakili isi berita.

  1. Kalimat pembuka

Kalimat pertama dalam tubuh press release sebaiknya memuat informasi tentang

5 W + 1 H.

3. Akurasi

Editor tidak akan mudah percaya pada isi berita yang disebarkan perusahaan, dan akan
melakukan pengecekan apakah isi tersebut memberikan data yang dapat dipercaya.

  1. Bahasa

Editor surat kabar biasanya tidak melakukan banyak perubahan, karena waktunya amat terbatas. Yang dilakukan biasanya adalah pemotongan atas kalimat yang tidak efektif dan isi yang dirasa tidak perlu. Editor akan menolak berita yang ditulis dengan bahasa yang tidak memenuhi kaidah bahasa Indonesia yang benar.

  1. Eksklusivitas

Jika release anda adalah eksklusif, beritahukanlah editor agar dia tahu bahawa berita itu benar-benar penting. Berita eksklusif biasanya diberikan oleh perusahaan kepada satu media saja yang dianggap penting dan mempunyai peredaran dan pengaruh yang luas.

  1. Relevansi

Editor akan melihat apakah berita tersebut relevan dengan misi media dan kepentingan pembacanya..

Sebelum memulai menulis, praktisi PR perlu melaksanakan tahap persiapan (perencanaan) dan pada akhirnya melakukan evaluasi. Dalam melakukan perencanaan, selain mematangkan topik atau isu yang hendak diangkat, perlu pula dilakukan pemerik saan kepustakaan atau riset kecil-kecilan agar didapat gambaran yang lebih utuh. Kemudian ditentukan siapa pihak yang pantas menerima pesan tersebut dan media apa yang akan dimintakan bantuannya untuk menyebarluaskan pesan tersebut.

Setelah persiapan beres, penulis harus segera merampungkan tulisan dengan mem perhatikan bagaimana strategi pesannya, gaya bahasa yang dipakai dan organisasi penulisannya. Ada beberapa pilihan kata yang dapat digunakan: kata-kata formal/ informal, jargon, kepastian (konotatif/denotatif), kata-kata umum/spesifik. Bahasa memberi ras, dan rasa akan memperkaya alam imajinasi pembaca. Untuk menghidupkan tulisan, praktisi PR dapat memasukkan variasi seperti action atau gerakan-gerakan (narasi), penginderaan (deskripsi), kalimat langsung atau penjelasan (eksposisi).

Bentuk tulisan yang demikian umumnya digunakan oleh media massa, terutama majalah. Namun belakangan penyampaian pesan dalam bentuk cerita mulai dipakai dalam berbagai karya tulis, termasuk buku-buku teks. Tujuannya adalah untuk meningkatkan perhatian dan apresiasi pembacanya. Dalam kegiatan PR, gaya penulisan yang demikian mewarnai company profile, corporate magazine, backgrounders, dan iklan korporat.

Setelah tulisn selesai, sebaiknya naskah dites lebih dahulu pada orang-orang dekat

di perusahaan untuk memperoleh masukan dan melakukan perbaikan. Biasanya tulisan akan menjadi lebih baik bila telah diberi masukan oleh pembaca awam dan mereka yang mengerti soal bahasa. Selain itu juga perlu diperhalus dan dipertajam pada beberapa sisi.

Evaluasi suatu karya tulis PR tidak hanya terbatas pada pengetesan sebelum diekspos keluar. Setelah tulisan beredar, praktisi PR perlu memantau peredaran berita tersebut dan melakukan pengecekan. Misalnya, apakah isi berita sudah sesuai dengan harapan perusahaan. Apa komentar pers? Apa ada salah interpretasi oleh wartawan. Bagaimana reaksi pesaing, pemerintah, masyarakat?

Praktisi PR harus memantau berita dari hari ke hari secara kontinu, termasuk isu baru yang dilontarkan oleh pihak lain dalam menanggapi berita yang disebarkan oleh perusahaan. Ini baru perlu dikembangkan pada terbitan perusahaan lainnya agar selalu dapat dilakukan perbaikan dalam proses komunikasi dengan publik.



IKLAN KORPORAT

Iklan didefinisikan sebagai pesan yang menawarkan suatu produk yang ditujukan kepada masyarakat lewat suatu media. Namun demikian, untuk membedakannya dari pengumuman biasa, iklan lebih diarahkan untuk membujuk orang supaya membeli. Seperti dikatakan oleh Frank F. Jefkins : “Advertising aims to persuade people to but”.

Public Relations memang memiliki “kapling” penting dalam periklanan. Namun, berbeda dengan iklan biasa, iklan PR tidak ditujukan untuk membujuk orang secara langsung untuk membeli. Iklan-iklan semacam ini dikenal dengan sebutan corporate advertising atau iklan korporat.

Terdapat empat jenis iklan korporat, yakni Public Relations Advertising, Institutional Advertising, Corporate Identity Advertising, dan Recruitment Advertising. Masing digunakan pada situasi berbeda tergantung pada siapa sasaran yang hendak dicapai dan pesan yang hendak disampaikan.

  1. Public Relations Advertising

Public Relations Advertising adalah iklan yang ditujukan kepada masyarakat dengan tujuan menjelaskan suatu hal. Penjelasan yang dimaksud adalah lebih dari sekedar pengumuman biasa. Pengumuman adalah memberitakan kepada umum secara umum. Jadi, informasi yang disampaikan tidak menimbulkan pemahaman secara spesifik, tetapi iklan ini ditujukan untuk membentuk suatu citra atau opini tertentu.

Ada banyak hal yang dapat dijelaskan oleh suatu perusahaan kepada masyarakat yang menyangkut pelayanannya. Pindah gedung, ganti nomor telepon, keterlamba tan pelayanan, sampai pada insiden yang tidak terduga: kecelakaan, kebakaran, pemogokan.

  1. Institutional Advertising

Iklan ini ditujukan untuk memperkuat citra atau image perusahaan dan meningkatkan awareness. Umumnya iklan seperti ini dikembangkan oleh perusahaan besar yang menyisihkan anggaran yang cukup besar. Iklan institusi dapat dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa didalam perusahaan atau di luar perusahaan, seperti ulang tahun perusahaan, ulang tahun kemerdekaan, acara peresmian, peristiwa pembangunan, dan sebagainya.

Umumnya bermanfaat bagi perusahaan besar, sebab semasa kecil, perusahaan tidak mempunyai kesempatan untuk melakukan kampanye ini. Seluruh nerginya digunakan untuk kelangsungan hidupnya. Namun bila perusahaan sudah tumbuh besar, perusahaan harus tampil dengan besar pula karena yang besar selalu menjadi sorotan masyarakat dan sumber kecemburuan sosial. Untuk itu, umumnya perusahaan ingin menanamkan kesan bahwa kehadirannya memberi manfaat kepada masyarakat. Selama perusahaan masih kecil, iklan-iklannya hanya akan berpa penjelasan dan bujukan agar konsumen membeli barang mereka yang spesifik.

  1. Corporate Identity Advertising

Iklan ini digunakan untuk menanamkan logo baru perusahaan. Logo adalah identitas, identitas mengandung sejumlah makna. Dengan menjelaskan makna logo seperti sikap perusahaan, pelayanan, dan sejarah perusahaan, diharapkan dapat mempengaruhi opini masyarakat. Iklan-iklan ini muncul bersamaan dengan kampanye melalui tulisan-tulisan di media massa ketika perusahaan mengganti logonya.

Dewasa ini, banyak perusahaan yang menyewa konsultan terkenal (biasanya biro-biro advertising) untuk merumuskan identitas perusahaan. Konsultan akan memulai kerjanya dengan merumuskan hal-hal sebagai berikut:

= Filosofi perusahaan

= Keadaan persaingan

= Sifat industri

= Budaya perusahaan

Dari sana, konsultan akan mengajuan identitas perusahaan yang terdiri atas desain grafik logo, warna identitas, dan desain fisik lainnya (kadang-kadang termasuk eksterior gedung, interior ruang pelayanan, seragam front liners dan eksekutif, serta benda-benda lainnya).

Logo yang baik akan memberi gambaran kepada calon konsumen tentang kebesaran dan kepribadian perusahaan. Kadang-kadang bukan cuma logo yang diganti, tetapi juga nama. Nama baru biasanya dipilih agar konsumen mudah mengingatnya dan mendukung arti yang memperkuat posisi.

Perubahan logo atau identitas suatu perusahaan selalu mengundang pertanyaan. Bila pertanyaan sudah muncul dari masyarakat, berarti perusahaan mempunyai kesempatan untuk membangun citra baru di masyarakat. Mengubah logo berarti mengubah citra dan itulah kesempatan bagi manajemen untuk memperbaiki posisinya di antara para pesaingnya.

  1. Recruitment Advertising

Iklan ini ditujukan untuk menarik dan menyeleksi karyawan atau manajer baru. Kesalahan anggapan yagsering terjadi adalah bahwa perekrutan merupakan suatu proses biasa yang cukup disampaikan dalam pengumuman biasa.

Bagi calon karyawan, iklan lowongan pekerjaan tetap merupakan hal yang penting dan selalu disambut dengan antusias. Ikaln perekrutan selalu menimbulkan keingintahuan calon karyawan, dan proses seleksi selalu menjadi bahan pembicaraan yang menarik. Oleh karena itu, dengan adanya perekrutan, perusahaan mempunyai kesempatan untuk menjelaskan sesuatu kepada masyarakat, dan sekaligus membangun citranya.

Cara yang disarankan untuk membuat iklan rekrutmen:

    1. Bila anda yakin bahwa perusahaan anda mempunyai identitas yang baik, tunjukkanlah jati diri perusahaan anda.
    2. Memberi kesempatan yang sama kepada seluruh khalayak masyarakat, menunjukkan bahwa perusahaan anda fair, terbuka dan tidak membatasi diri ppada kelompok tertentu.
    3. Melakukan seleksi secara terbuka berarti membuka peluang lebih besar untuk mendapatkan tenaga-tenaga yang lebih baik.
    4. Melakukan seleksi secara terbuka dan profesional menimbulkan pembicaraan di kalangan masyarakat. Bila hal ini dilakukan secara rutin, maka akan memacu semangat persaingan di antara peserta. Orang-orang yang dinamis biasanya menyukai tantangan ini.
    5. Ukuran iklan di surat kabar hendaknya dibuat sesuai dengan kebesaran perusahaan. Jika perusahaan cukup besar dan bonafid, jangan membuat iklan yang berukuran kecil dengan huruf yang terlalu kecil dan padat. Iklan bukanlah semata-mata pengumuman biasa yang “mau dibaca syukur, tidak juga tidak apa-apa”.
    6. Berikanlah penjelasan yang jujur dan janganlah menimbulkan salah interpretasi. Bila anda memerlukan salesman, tulislah salesman. Jangan mengganti dengan kata-kata yang tidak jelas seperti Marketing Executive, Marketing Manager, Sales Manager, atau Sales Executive.

4 SYARAT YANG HARUS DIPENUHI BAGI TERPILIHNYA MASALAH ATAU JUDUL PENELITIAN:

  1. HARUS SESUAI DENGAN MINAT PENELITI = KEAHLIANNYA
  2. HARUS DAPAT DILAKSANAKAN = Peneliti mempunyai kemampuan meneliti masalah itu, waktu yang cukup, tenaga untuk melaksanakan, dana yang cukup.
  3. HARUS TERSEDIA FAKTOR PENDUKUNG = tersedia data dan izin berwenang
  4. HARUS BERMANFAAT =

3 JENIS FENOMENA ATAU GEJALA :

  1. PROBLEMA UNTUK MENGETAHUI STATUS DAN MENDESKRIPSIKAN FENOMENA
  2. PROBLEMA UNTUK MEMBANDINGKAN DUA FENOMENA ATAU LEBIH
  3. PROBLEMA UNTUK MENCARI HUBUNGAN ANTARA DUA FENOMENA (PROBLEMA KORELASI)

Jumat, 05 Maret 2010

RISETAUDITPUBLICRELATIONS

PENGERTIAN RISET


RISET :

> upaya mencari kembali

  1.  (kamus Oxford Advanced Leaner’s Dictinary od Current English (1977) melakukan penyelidikan dalam aturan untuk menemukan fakta-fakta baru dan memperoleh tambahan informasi
     (kamus Webster’s New World Dictionary) : penyelidikan secara hati-hati, sistematis dalam mencari fakta dan prinsip-prinsip suatu penyedilikan yang cermat guna menetapkan suatu keputusan tepat.

    SYARAT ILMIAH MENURUT HENRY L. MANNAHEIM (1977):

    1. ACCURATE : kepastian, ketepatan, dan kepedulian.
    2. SYSTEMATIC : tahapan-tahapan penelitian yang saling berurutan dan berhubungan satu sama lain.
    3. ANALYSIS : Identifikasi permasalahan untuk dianalisis
    4. DETERMINATE : Ketetapan yang jelas: setiap kegiatan penelitian ilmiah adalah utuk menentukan batasan-batasan pengertian dengan ketentuan yang jelas dan spesifik.
    5. DATA : bahan-bahan informasi atau materi penelitian yang berkaitan dengan fenomena2 tertentu yang ingin dipelajari dan melakukan observasi dari fenomena tersbut.

    KRITERIA RISET ILMIAH:

    1. FAKTA
    2. BEBAS PRASANGKA (LOGIS DAN OBYEKTIF, TIDAK SUBYEKTIF).
    3. ANALISIS
    4. HIPOTESIS
    5. TEKNIK KUANTITATIF

    METODE RISET:

    1.SURVEY: riset yang diadakan untuk memperoleh fakta-fakta tentang gejala –gejala atas
    permasalahan yang timbul. Kajiannya tidak perlu mendalam, dan fakta-fakat yang ada
    digunakan untuk pemecahan masalah daripada digunakan untuk pengujian hipotesis.

    Terdapat 4 unsur pokok kegiatan survey, melalui:

    a.The sample: sampling dan sensus
    b.The quesionnair
    c.The interview
    d.The analysis of result

    Terdapat 2 jenis survey:

    a.Descriptive Surveys
    Untuk melihat suatu gambaran atau potret situasi atau kondisi tertentu masa kini.
    Contoh: public opinion polls (jajak pendapat)

    b.Explanatory Surveys (survey penjelasan)
    Menjelaskan kasus2 yang terjadi di masyarakat pada kondisi dan situasi tertentu di
    masa kini, dan bentuk pertanyaannya adalah mengapa (why)

    2. COMMUNICATION AUDITS
    Permasalahan2 komunikasi:
    a. Kemacetan arus informasi (bottlenecked information flows).
    b. Tidak adanya keseimbangan beban kerja di bidang komunikasi (Uneven communication
    workloads).
    c. Para karyawan seakan-akan bermaksud saling berlawanan dalam menghadapi suatu
    pekerjaan (Employee working at cross-purposes).
    d. Organisasi tidak dapat memanfaatkan informasi tersembunyi, dan merugikan bagi lembaga bersangkutan

    3. UNOBTRUSIVE MEASURES
    (Pengukuran paling sederhana) adalah penemuan fakta-fakta yang diperoleh di lapangan melalui analisis isi dan studi kelayakan. Memungkinkan untuk mempelajari permasalahan atau obyek penelitian tanpa melibatkan si peneliti atau tidak perlu ada proposal riset yang diajukan sebelumnya. Misal : data dari dokumentasi media massa, profile perusahaan dan produk barang/jasa, foto publikasi dan kliping berita, informasi perangkat peraturan perusahaan, keputusan hukum/undang-undang yangada, dsb.

    MACAM-MACAM RISET:

    1. EKSPLORATORIS: penelitian penjajagan, bersifat terbuka, masih mencari-cari. Pengetahuan peneliti tentang masalah yang akan diteliti masih terlalu tipis untuk dapat melakukan studi deskriptif. Warwick dan Lininger (1975: 47) umpamanya, contoh: “Apakah yang paling mencemaskan anda akhir-akhir ini? Menurut anda, bagaimanakah cara pengasuhan anak yang baik?”
    Sederhana, tapi sebelum terkumpul sejumlah jawaban, belumlah jelas diketahui kira-kira bagaimana jawaban responden terhadap pertanyaan2 tersebut.
    2. EKSPERIMEN
    Untuk mengetahui hubungan sebab akibat variabel penelitian. Pelaksanaan memerlukan konsep dan variabel yang jelas sekali dan pengukuran yang cermat. Penelitian eksperimen mungkin dilakukan di laboratorium, di kelas, atau di lapangan. Penelitian eksperimen dapat dilakukan tanpa atau dengan kelompok pembanding (control group). Penelitian tanpa kelompok pembanding diragukan keabsahannya, karena beberapa variabel yang mengancam atau yang melemahkan validitas penelitian tidak dikontrol. Untuk menghindarkan masalah tersebut, berbagai penelitian eksperimen menggunakan kelompok pembanding.

    3. GROUNDED RESEARCH
    Titik berat grounded riset adalah pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara bebas. Menurut Glaser dan Strauss (1967), grounded research merupakan reaksi tajam dan menyajikan jalan keluar dari “stagnasi teori” dalam ilmu-ilmu sosial, dengan penitikberatan pada sosiologi.
    Grounded research menyajikan suatu pendekatan yang baru. Data merupakan sumber teori, teori berdasarkan data, kategori dan konsep dikembangkan peneliti di lapangan. Data yang bertambah dimanfaatkan untuk verifikasi teori yang timbul di lapangan, yang terus menerus disempurnakan di lapangan. Pendekatan ini menggunakan observasi berpartisipasi (sebagaimana yang lazim ilakukan oleh sarjana antropologi) mengembangkan konsep-konsep di lapangan, dan peneliti terlibat secara penuh ddalam penelitiannya dari awal sampai akhir.
    Seperti dalam buku Alfian, Segi-segi Sosial Budaya Masyarakat Aceh; Hasil-hasil Penelitian dengan Metode “Grounded Research”, digambarkan dengan baik mengapa dipilih grounded research untuk para peserta Pusat Latihan Ilmu-Ilmu Sosial di Banda Aceh.

    4. Kombinasi Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif
    Dalam upaya memperkaya data dan lebih memahami fenomena sosial yang diteliti, terdapat usaha untuk menambahkan informasi kualitatif pada data kuantitatif.
    Dalam penelitian survey, umpamanya, data kualitatif dikumpulkan dengan menggunakan slip.
    Atau penggunaan kuesioner, tetapi baik peneliti utama maupun para asisten tinggal di lapangan selama penelitian diadakan. Data dihimpun melalui kuesioner yang disiapkan sebelumnya dan kemudian diperbaiki di lapangan, ditambah dengan dengan wawancara bebas dan observasi.
    5. Analisa Data Sekunder
    - data hasil survei yang belum dianalisa dan analisa lanjutan dapat menghasilkan sesuatu yang berguna.
    - Studi perbandingan dari studi-studi yang telah dilakukan.
    Keuntungannya adalah peneliti tidak terlibat dalam mengusahakan dana untuk penelitian lapangan, merekrut dan melatih pewawancara, menentukan sampel dan mengumpulkan data di lapangan yang memakan energi dan waktu.

    JENIS-JENIS PENELITIAN PUBLIC RELATIONS

    1. PENELITIAN CITRA:
    = untuk mengetahui bagaimana sebuah perusahaan sikenal baik reputasinya, dan apa yang publik pikirkan tentang roduk, pelayanan, harga, reklame, personalia, dan prakteknya.
    = Memberikan informasi untuk mengevaluasi kebijaksanaan, memperbaiki kesalahpahaman, menentukan daya tarik pesan humas, dan meningkatkan citra perusahaan dalam pikiran publik

    2. PENELITIAN MOTIVASI
    = untuk mengetahui faktor-faktor emosional pokok yang mempengaruhi opini publik terhadap sebuah perusahaan atau industri.
    = Penelitian ini memahami secara pasti mengapa publik memuji dan mencela sebuah perusahaan atau industri.
    = Melalui wawancara secara mendalam dengan contoh populasi tepat, apa yang mendorong sikap publik terhadap suatu perusahaan.
    = Untuk mengetahui motivasi yang mempengaruhi opini seseorang, adalah perlu untuk mengeksplorasikan faktor-faktor psikologis yang membentuk sikap orang tersebut terhadap sebuah perusahaan.

    3. PENELITIAN KEEFEKTIFAN
    = Digunakan untuk mengukur pengaruh yang kuat yang ditimbulkan oleh kegiatan humas sebuah perusahaanterhadap opini publik.
    = Untuk mengukur tanggapan terhadap komunikasi perusahaan melalui publiknya.
    = Untuk mengukur opini publik terhadap peristiwa tertentu, seperti pameran, perayaan ulang tahun, penutupan perusahaan, pemogokan, dan lainnya.

    4. ANALISIS ISI
    > Suatu prosedur penelitian, yang dikembangkan oleh Harold Laswell, dimana analisis yang obyektif, sistematik dan kuantitatif ditujukan terhadap isi satu atau lebih media massa


    TINJAUAN PUSTAKA

    = Konsep-konsep, teori-teori, dan generalisasi2 yang dijadikan landasan teoritis penelitian yang akan dilakukan.
    = Diperlukan agar penelitian mempunyai dasar yang kuat dan kokoh.
    = Peneliti melakukan penelaahan atau studi kepustakaan, karena lebih dari 50% seluruh proses kegiatan penelitian adalah membaca atau melakukan tinjauan pustaka.
    = Gay (1976) berpendapat, kajian pustaka meliputi pengidentifikasian secara sistematis, penemuan, dan analisis dokumen2 yang memuat informasi yang relevan dengan masalah penelitian.
    = Fungsi tinjauan pustaka:
    (a) Menyediakan kerangka konsep/teori.
    (b) Menyediakan informasi penelitian sebelumnya yang relevan.
    (c) Memberikan rasa percaya diri pada diri peneliti.
    (d) Memberi informasi tentang metode penelitian, populasi dan sampel, instrumen pengumpulan data, dan perhitungan statistik.
    (e) Menyediakan temuan2 dan kesimpulan2 penelitian terdahulu.

    HIPOTESIS

    = Kerlinger (1973), hipotesis adalah pernyataan berdasarkan perkiraan mengenai hubungan antara dua atau lebih variabel.
    = McGuigan (1978), hipotesis adalah pernyataan yang dapat diuji mengenai hubungan potensial antara dua atau lebih variabel.
    = Cohen dan Nagel (1988), hipotesis harus menjawab persoalan yang menjadi awal mula penyelidikan.
    = Jadi, hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian, yang secara teoritis dinilai paling mungkin an tinggi tingkat kebenarannya.
    = Secara implisit, hipotesis menyatakan prediksi, taraf ketepatan prediksi akan sangat bergantung pada taraf kebenaran dan taraf ketepatan landasan teoritis yang mendasarinya.
    = Dasar teori yang kurang tepat akan melahirkan hipotesis yang prediksinya kurang tepat.
    = Cara merumuskan hipotesis:
    a. Hipotesis menunjukkan hubungan antara dua variabel atau lebih
    b. Hipotesis dinyatakan dalam kalimat deklaratif atau pernyataan
    c. Hipotesis dirumuskan secara jelas, padat, dan dapat diteliti.
    d. Hipotesis hendaklah dapat diuji sehingga dimungkinkan pengumpulan data untuk menguji kebenaran hipotesis tersebut.

    AUDIT HUMAS

    • Pavlik (1987), audit humas dirancang untuk mengevaluasi kedudukan suatu organisasi dengan publiknya yang relevan. Yaitu publik internal dan eksternal.
    • Moore (1989), audit humas adalah suatu studi yang tersusun secara longgar, berskala luas, yang menyelidiki hubungan masyarakat perusahaan, baik secara internal maupun eksternal.
    1. Studi humas dilakukan secara longgar : dalam penelitian tidak harus mengacu pada satu pendekatan metode penelitian (bisa menggabungkan prinsip-prinsip metode penelitian, misalnya metode evaluasi dengan metode survei), tapi tetap menggunakan prinsip obyektifitas sebagai skala prioritas utama. Penelitian evaluasi menurut Ferencic (1991), adalah suatu metode dan teknik penelitian sistematis yang digunakan untuk pengambilan keputusan ataupun penilaian tentang suatu program kegiatan. Dan tujuannya adalah untuk mengetahui suatu kegiatan berlangsung sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan ataukah tidak. Terdapat 3 jenis yaitu evaluasi formatif, proses, dan sumatif
  2. 2. Studi humas merupakan studi berskala luas, karena bertujuan untuk mengevaluasi semua kegiatan yang dilakukan oleh humas, baik kepada publik internal maupun eksternal.

    • Menurut Simon (Wimmer dan Dominick, 1983), audit humas adalah penelitian khusus yang digunakan untuk menggambarkan, mengukur, dan menaksir kegiatan-kegiatan humas suatu perusahaan dan memberikan petunjuk untuk penyusunan program-program selanjutnya.

    • Untuk mengukur kegiatan audit humas, menurut Lerbinger (Pavlik, 1987: 28), ada dua tipe dasar penelitian:

  3. 1. Identifikasi khalayak, ada 4 langkah dasar:
    a. mengidentifikasi semua publik yang relevan. Tujuannya, supaya diketahui secara persis profil perusahaan atau lembaga, sehingga akan tersegmen publik yang terpenting sampai yang tidak penting, jumlah sampel. Identifikasi khalayak sebaiknya dilakukan per kegiatan dan bisa melalui wawancara kepada pejabat humas atau orang yang ditunjuk.
    b. Mengevaluasi kedudukan organisasi dengan setiap publik yang relevan. (persepsi, selera, dan kegiatan publik).
    c. Mengidentifikasi isu-isu yang berkaitan dengan publik. Sebaiknya spesifik dan mengacu pada karakteristik publik.
    d. Mengukur kekuatan setiap publik (sumber-sumbernya, keuangannya, humannya, dsb).

  4. 2. Penelitian citra : penilaian baik atau buruk dari khalayak internal dan eksternal pada suatu perusahaan atau lembaga. Untuk itu, peneliti perlu mengetahui:
    a. Kedekatan setiap publik dengan organisasi atau perusahaan
    b. Perilaku setiap publik dengan organisasi
    c. Untuk setiap publik yang bergadung dengan organisasi.
    • Citra perusahaan (Jefkins, 1988) adalah karakter dari perusahaan itu sendiri dan cara perusahaan mengusahakan untuk mempengaruhi kesan orang terhadap perusahaan

    • Tahap-tahap penelitian audit humas menurut Moore (1989) dan Jones (Pavlik, 1987), membaginya menjadi empat tahap:
    1. Menyelidiki apa yang “kita” pikirkan
    2. Menyelidiki apa yang “mereka” pikirkan
    3. Mengevaluasi perbedaan antara dua sudut pandang
    4. Menganjurkan atau merekomendasikan program komunikasi yang komprehensif dengan tujuan untuk mengakhiri kesenjangan tersebut.