PENGARUH KOMUNIKASI KELUARGA TERHADAP
KEKERASAN PADA ANAK
ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah (1)untuk mengetahui pengaruh komunikasi keluarga terhadap kekerasan pada anak, (2)untuk mengetahui kontribusi yang diberikan komunikasi keluarga terhadap kekerasan pada anak, (3) Untuk mengetahui bentuk-bentuk komunikasi keluarga yang berpengaruh terhadap kekerasan pada anak dalam keluarga. Pembatasan permasalahan dalam penelitian adalah:1) Komunikasi keluarga adalah frekuensi dan intensitas komunikasi antara suami dan istri, ayah dan anak pertama yang tinggal satu rumah, serta ibu dan anak pertama yang tinggal satu rumah; 2) Kekerasan pada anak adalah perilaku yang ditujukan untuk menyakiti anak-anak, yang mencakup: a) Emotional abuse, yaitu kekerasan psikis, seperti pengabaian dan pemaksaan; b) Verbal abuse, yaitu kekerasan verbal, seperti bentakan, omelan, ancaman, dan penghinaan; c) Physical abuse, yaitu kekerasan fisik, seperti cubitan, pemukulan, jeweran telinga.
Tipe Penelitian adalah studi korelasi dengan menggunakan Korelasi Product Moment. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan: 1) Pengaruh frekuensi komunikasi keluarga terhadap kekerasan pada anak. Dengan r sebesar – 0,299. Artinya pengaruhnya rendah, tapi angka negative disini dapat diartikan bahwa semakin tinggi frekuensi komunikasi keluarga semakin rendah kekerasan pada anak; 2) Kontribusi yang diberikan oeh frekuensi komunikasi keluarga terhadap kekerasan pada anak sebesar 8%; 3) Bentuk komunikasi yang berpengaruh terhadap kekerasan pada anak adalah komunikasi interpersonal, yaitu komunikasi antar pribadi antara bapak dengan ibu, bapak dengan anak pertama, ibu dengan anak pertama.
I. Pendahuluan
Kebaikan dan keburukan perilaku anak tergantung pada proses belajar dan berkembang yang meliputi 4 lingkungan sosial, pertama keluarga, kedua kelompok teman sebaya (peer Group), ketiga sekolah dan keempat badan-badan kemasyarakatan yang bergerak dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan keagamaan.
Dari keempat lingkungan sosial itu, anak belajar dalam tiga aspek, yaitu aspek kognitif (pengetahuan), aspek psikomotorik (keterampilan) dan aspek afektif (sikap dan nilai-nilai).
Di dalam keluarga, komunikasi antar anggota keluarga sangat diperlukan untuk mentransfer nilai-nilai yang telah digariskan orang tua. Komunikasi adalah wahana utama dari kegiatan dan kehidupan sehari-hari, dalam hal ini adalah keluarga. Komunikasi antar anggota keluarga dinamakan komunikasi antarpribadi (Interpersonal). Keluarga berkomunikasi dengan anggotanya karena mereka saling membutuhkan, keluarga tidak dapat maju tanpa komunikasi dan informasi. Dalam prakteknya bahwa komunikasi saling mengisi untuk memperoleh efektifitas dalam mendidik dan melatih anak-anaknya.
. Konflik dalam keluarga sering terjadi karena tersumbatnya aliran komunikasi antara orang tua dan anak. Orang tua yang sama - sama sibuk menyebabkan intensitas dan kualitas komunikasi menjadi sangat kurang Dan tidak jarang akan menimbulkan perselisihan diantara mereka. Pergaulan antara orang tua dan anak derajad keintiman, frekuensi pertemuan, mutu interaksi dari anggota keluarga sangat diperlukan bagi sebuah keluarga. Banyak persoalan - persoalan keluarga terutama antara orang tua dan anak yang bisa diselesaikan dengan komunikasi yang baik diantara mereka
Orang tua yang memiliki masalah berat dalam hubungannya dengan anak-anak mereka adalah orang-orang yang memiliki konsep-konsep yang sangat kuat dan kaku mengenai apa yang benar dan apa yang salah. Ketua Perwakilan Unicef di Indonesia, Dr. Giafranco Rotigliano, menyatakan Unicef telah melakukan dua penelitian tentang kekerasan anak di NTB dan NTT pada 2002 dan 2003. Survei pada 125 anak yang dilakukan tahun 2002 diketahui bahwa dua per tiga dari anak laki-laki dan sepertiga anak perempuan yang menjadi responden pernah mengalami pemukulan. Lebih seperempat anak pernah mengalami pemerkosaan. Tahun 2003, survei yang dilakukan pada 1700 anak yang menjadi responden mengaku pernah dipukul, ditampar, atau dilempar sesuatu.
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh komunikasi keluarga terhadap kekerasan pada anak dan kontribusi yang diberikan komunikasi keluarga dalam kekerasan pada anak.
II.Kerangka Pemikiran
a. Komunikasi
Pengertian komunikasi menurut Seiler (1988) adalah proses dengan mana simbol verbal dan nonverbal dikirimkan, diterima, dan diberi arti.
Shannon dan Weaven (1949) memberikan pengertian bahwa komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling pengaruh mempengaruhi satu sama lainnya, sengaja atau tidak sengaja. Tidak terbatas pada bentuk komunikasi menggunakan bahasa verbal, tetapi juga dalam hal ekspresi muka”.
Komunikasi keluarga menurut Riyono Pratikno adalah komunikasi-komunikasi yang terdapat dalam sebuah keluarga. Sehubungan dengan batasan Riyono Praktikno maka keluarga dapatlah dipandang sebagai salah satu bentuk komunikasi
Sesuai dengan pendapat Susanto Astrid S, yang menyatakan bahwa suatu komunikasi yang harmonis mencerminkan suatu situasi dimana komunikator dan komunikan mengerti satu sama lain, saling mempengaruhi dan hasil komunikasi akan memuaskan kedua belah pihak. Jadi komunikasi keluarga adalah komunikasi antara suami dengan istri, ayah dengan anak, serta ibu dengan anak dengan diikuti seringnya mereka berinteraksi akan menciptakan rasa saling pengertian, saling mempengaruhi sehingga dapat memuaskan dan mewujudkan kebahagiaan dalam keluarga tersebut.
Penelitian ini menggunakan teori S.O.R, yang menyatakan bahwa efek yang ditimbulkan adalah reaksi khusus terhadap stimulus khusus, sehingga seseorang dapat mengharapkan dan memperkirakan kesesuaian antara pesan dan reaksi komunikan. Jadi unsur-unsur dalam model ini adalah :
a. Pesan (stimulus, S)
b. Komunikan (organism, O)
c. Efek (response, R)
Melalui komunikasi antarpribadi, teori S.O.R merupakan perwujudan pesan yang disampaikan pada komunikan akan menimbulkan efek berupa perubahan sikap yaitu setelah dilakukan pendekatan komunikasi antarpribadi.
Prof. Dr. Mar’at dalam bukunya “Sikap Manusia, Perubahan Serta Pengukurannya”, mengutip pendapat Hovland, Janis, dan Kelley yang menyatakan bahwa dalam menelaah sikap yang baru ada tiga variabel penting yaitu
a. perhatian
b. pengertian
c. penerimaan
Hipotesa
Ho = Tidak terdapat pengaruh komunikasi keluarga terhadap kekerasan pada
anak
H1 = Terdapat pengaruh komunikasi keluarga terhadap kekerasan pada anak.
Pembatasan permasalahan
1. Komunikasi keluarga adalah komunikasi antara suami dan istri, ayah dan anak pertama yang tinggal satu rumah, serta ibu dan anak pertama yang tinggal satu rumah, dengan diikuti frekwensi dan intensitas berinteraksi diantara mereka.
2. Kekerasan pada anak adalah perilaku yang ditujukan untuk menyakiti anak-anak, yang mencakup:
- Emotional abuse, yaitu kekerasan psikis, seperti pengabaian dan pemaksaan.
- Verbal abuse, yaitu kekerasan verbal, seperti bentakan, omelan, ancaman, dan penghinaan.
- Physical abuse, yaitu kekerasan fisik, seperti cubitan, pemukulan, jeweran
telinga.
Tujuan dari penelitian ini adalah 1) Untuk mengetahui pengaruh komunikasi keluarga terhadap kekerasan pada anak; 2) Untuk mengetahui kontribusi yang diberikan komunikasi keluarga terhadap kekerasan pada anak; 3) Untuk mengetahui bentuk-bentuk komunikasi keluarga yang berpengaruh terhadap kekerasan pada anak dalam keluarga.
Metode Penelitian
Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi korelasi, yaitu penelitian untuk menentukan tingkat hubungan variable-variabel yang berbeda dalam suatu populasi. Dengan penelitian ini, peneliti dapat mengetahui berapa besar kontribusi variable-variabel bebasa tehadap variable-variabel terikatnya serta besarnya arah hubungan yang terjadi.
Lokasi penelitian ditentukan secara sengaja yaitu Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, dengan pertimbangan:a) Dari data P3A, di Kecamatan Sidoarjo, terdapat 198 kasus kekerasan terhadap anak, khususnya pada anak perempuan; b) Tingkat sosial ekonomi dan pendidikan masyarakat Sidoarjo cukup beragam, yang bisa mempengaruhi tingkat kekerasan terhadap anak; c) Dengan melakukan penelitian di Kecamatan Sidoarjo, diharapkan variabel-variabel dapat dijadikan acuan untuk merencanakan pelaksanaan sosialisasi UU Perlindungan Anak dan UU Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Populasi dalam penelitian ini mengambil populasi yaitu masyarakat Kecamatan Sidoarjo Kabupaten Sidoarjo, yang berjumlah 142.540 orang (berdasarkan) buku Sidoarjo Dalam Angka 2005). Secara teoritis, penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan tabel sampel Taro Yamane (Rakhmat, 1989: 227). Dari populasi sebesar 142.540 orang, dan presisi yang ditentukan adalah 10 % maka sampel yang diambil berjumlah 100 responden. Cara atau teknik yang dipakai untuk pengambilan sampel adalah sampel random sampling dengan cara undian, yaitu setiap anggota populasi mempunyai peluang yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel (Sugiyono, 2000 : 96).Dalam pengumpulan data peneliti menggunakan metode :
a) Studi Pustaka, b) Kuisioner; c) Wawancara
Teknik analisa data menggunakan perhitungan Korelasi Product Moment, yang mana rumusnya adalah sebagai berikut
1. Koefisien korelasi produk moment
2. Keberartian Korelasi
Dengan harga kritik 0,05 atau interval kepercayaan 95% maka diperoleh hasil :
Apabila Ho = ditolak jika, r = 0
Hi = diterima jika, r diantara –1 dan 1
![]()
Keterangan :
r : Koefisien korelasi
X : Variabel X
Y : Variabel Y
XY : Jumlah perkalian antara variabel X dan variabel Y
n : Jumlah responden
Σ : Sigma (jumlah)
(Jalaludin Rachmat, 1984 : 148)
Adapun penafsiran akan besarnya koefisien korelasi yang akan digunakan adalah seperti pada tabel berikut:
Tabel 2.1.
Tingkat-tingkat Korelasi
| Interval Koefisien | Tingkat Hubungan |
| 0,00 – 0,199 0,20 – 0,399 0,40 – 0,599 0,60 – 0,799 0,80 – 1,000 | Sangat Rendah Rendah Sedang Kuat Sangat Kuat |
Sumber : Sugiyono (1994:149)
Hasil Penelitian
Komunikasi Keluarga
a. Frekuensi Komunikasi Antara Bapak dan Ibu
Tingkat keseringan komunikasi diukur dari jumlah komunikasi rata-rata dalam sehari. Frekuwnsi komunikasi dapat dikategorikan menjadi 3, yaitu:
- Sering atau lebih dari 5 kali
- Sedang atau 3 – 4 kali
- Jarang atau 1- 2 kali
Untuk dapat melihat gambaran jumlah atau tingkat keseringan komunikasi ini dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1
Frekuensi Komunikasi Antara Bapak dan Ibu
| No | Frekuensi | Jumlah | % |
| 1 | Sering | 68 | 68 |
| 2 | Sedang | 28 | 28 |
| 3 | Jarang | 4 | 4 |
| | | 100 | 100 |
Sumber : kuesioner no.
Dari 100 responden, 68% menyatakan melakukan komunikasi antara bapak dan ibu sebanyak lebih dari 5 kali dalam sehari. Artinya, responden telah berusaha meluangkan waktu untuk berkomunikasi atau berbicara dengan istrinya atau suaminya. Bahkan ada yang memberikan alasan bahwa semua masalah bisa dibicarakan tidak harus dengan kekerasan.
Tabel 2
Frekuensi Antara Bapak dan Anak
| No | Frekuensi | Jumlah | % |
| 1 | Sering | 52 | 52 |
| 2 | Sedang | 32 | 32 |
| 3 | Jarang | 16 | 16 |
| | | 100 | 100 |
Sumber : kuesioner no.
Dari 50 responden bapak-bapak, 52% menyatakan dalam sehari lebih dari 5 kali melakukan komunikasi dengan anak pertama. Bila dianalisis lebih dalam dan dikaitkan dengan frekuensi komunikasi antara bapak dan ibu, maka ternyata jumlah respondennya lebih sedikit daripada jumlah responden yang melakukan komunikasi antara bapak dan ibu. Sedangkan jumlah bapak yang jarang melakukan komunikasi dengan anak sebanyak 16 %, tapi yang jarang berkomunikasi dengan istri hanya 4 %. Artinya, bahwa orang tua atau bapak dan ibu lebih sering berkomunikasi diantara keduanya daripada berkomunikasi dengan anak. Dengan kata lain, anak jarang dilibatkan dalam pembicaraan diantara mereka berdua dan sesuai dengan sifat bapak yang memang jarang berbicara kepada anak, karena bapak jarang di rumah (bekerja) dan mewakilkan ke ibu untuk berkomunikasi dalam segala hal kepada anak.
Tabel 3
Frekuensi Antara Ibu dan Anak
| No | Frekuensi | Jumlah | % |
| 1 | Sering | 68 | 68 |
| 2 | Sedang | 24 | 24 |
| 3 | Jarang | 8 | 8 |
| | | 100 | 100 |
Sumber : kuesioner no.
Dari 100 responden ibu-ibu, 68% menyatakan sering berkomunikasi dengan anak dengan frekuensi lebih dari 5 kali dalam sehari. Hasil ini berbeda dengan frekuensi komunikasi bapak dan anak. Hal ini dikarenakan ibu lebih banyak waktu bersama anak dibandingkan dengan bapak.
b.Lama rata-rata setiap kali berkomunikasi antara anggota keluarga, dibedakan dalam 5 kategori, yaitu :
- Sangat lama atau 2 jam
- Lama atau 1 jam
- Cukup atau ½ jam
- Sebentar atau kurang dari ½ jam
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4
Lama Komunikasi Antara Bapak dengan Ibu
| No | Durasi/Lama berkomunikasi | Jumlah | % |
| 1 | Sangat Lama | 12 | 12 |
| 2 | Lama | 22 | 22 |
| 3 | Cukup | 28 | 28 |
| 4 | Sebentar | 38 | 38 |
| | | 100 | 100 |
Sumber: kuesioner no.
Dari 100 responden, 38% menyatakan bahwa durasi berkomunikasi antara bapak dan ibu kurang dari ½ jam atau sebentar. Bila dikaitkan dengan frekuensi berkomunikasi antara bapak dan ibu, maka meskipun masuk dalam kategori sering atau lebih dari 5 kali sehari berkomunikasinya, tapi durasinya kurang dari ½ jam. Cukup singkat, tapi mungkin padat dengan pesan-pesan.
Tabel 5
Lama Komunikasi Antara Bapak dengan Anak
| No | Durasi/lama berkomunikasi | Jumlah | % |
| 1 | Sangat Lama | 44 | 44 |
| 2 | Lama | 28 | 28 |
| 3 | Cukup | 16 | 16 |
| 4 | Sebentar | 12 | 12 |
| | | 100 | 100 |
Sumber : kuesioner no.
Dari 100 responden bapak, 44% menyatakan bahwa dalam berkomunikasi dengan anak pertama durasinya sangat lama atau 2 jam, dan bila dikaitkan dengan frekuensi berkomunikasi bapak dan anak, maka dapat dijelaskan bahwa meskipun bapak jarang berkomunikasi atau hanya 1 – 2 kali dalam sehari, tapi bila sudah berkomunikasi, maka durasinya bisa mencapai 2 jam. Dan bila frekuensinya termasuk dalam kategori sering atau lebih dari 5 kali, bapak-bapak meluangkan waktu sangat lama untuk berkomunikasi dengan anaknya atau 2 jam.
Tabel 6
Lama Komunikasi Antara Ibu dengan Anak
| No | Durasi/lama berkomunikasi | Jumlah | % |
| 1 | Sangat Lama | 20 | 20 |
| 2 | Lama | 22 | 22 |
| 3 | Cukup | 28 | 28 |
| 4 | Sebentar | 30 | 30 |
| | | 100 | 100 |
Sumber: kuesioner no.
Dari 100 responden, 30 % menyatakan bahwa durasi komunikasi antara ibu dan anak masuk dalam kategori sebentar atau kurang dari ½ jam. Dan 28% menyatakan cukup ½ jam. Artinya, meskipun frekuensi komunikasinya lebih sering dari bapak, tapi durasinya lebih sedikit daripada bapak. Dengan frekuensi komunikasi lebih dari 5 kali, tapi waktunya sebentar atau kurang dari ½ jam. Hal ini bisa dikarenakan ibu berfungsi sebagai mediator antara bapak dan anak, anak merasa cukup sebentar saja berbicara dengan ibu, dan karena bapak adalah pengambil keputusan dalam keluarga. Dan bisa juga, karena anak biasanya lebih takut kepada bapak daripada ibu. Ibu juga punya kecenderungan untuk mengomel atau banyak bicara sehingga anak terkadang mengabaikan pesan ibu.
Kekerasan Pada Anak
Kekerasan pada anak diartikan sebagai kekerasan yang dilakukan orang tua yang ditujukan untuk menyakiti anak-anak. Tingkat kekerasan pada anak dapat dikategorikan menjadi 3 yaitu :
- Rendah artinya tidak atau jarang melakukan kekerasan pada anak
- Sedang artinya kadang-kadang melakukan kekerasan kalau memang diperlukan.
- Tinggi artinya sering melakukan kekerasan pada anak dengan alas an-alasan tertentu.
Kekerasan pada anak dalam penelitian ini mencakup kognitif, afektif, dan behavioral. Untuk lebih jelasnya akan peneliti uraikan dibawah ini:
a. Kognitif yang meliputi pengetahuan adanya kekerasan pada anak dalam rumah tangga, perlunya kekerasan, dan keyakinan akan manfaat kekerasan pada anak. Tabel berikut akan menjelaskan :
TABEL 7
KOGNITIF
| No. | Kategori | Jumlah | Frekwensi |
| 1. | Rendah | 48 | 48 |
| 2 | Sedang | 40 | 40 |
| 3. | Tinggi | 12 | 12 |
| | Total | 100 | 100% |
Sumber: kuesioner no.
Dari 100 responen, 48% tidak mengetahui, perlu dan meyakini bahwa kekerasan dapat menyelesaikan masalah dengan anak. 40% responden kadang-kadang mengetahui, perlu, dan meyakini kekerasan pada anak dapat menyelesaikan masalah. 12% responden mengetahui, memerlukan dan meyakini kekerasan pada anak dapat menyelesaikan masalah.
b. Afektif, yaitu sikap setuju atau tidak terhadap kekerasan pada anak, yang meliputi emotional abuse, verbal abuse, dan physical Abuse
- Afektif emotional abuse, yaitu sikap setuju atau tidak setuju pada kekerasan psikis, seperti pengabaian. Untuk lebih jelasnya dibawah ini adalah tabel yang menyajikan hasil penelitian kekerasan pada anak:
TABEL 8
AFEKTIF EMOTIONAL ABUSE
| No. | Kategori | Jumlah | Frekwensi |
| 1. | Rendah | 72 | 72% |
| 2 | Sedang | 2 | 2% |
| 3. | Tinggi | 26 | 26% |
| | Total | 100 | 100% |
Sumber : kuesioner no.
Dari 100 responden, 72% tidak setuju dengan tindakan pengabaian permintaan
26% responden setuju dengan pengabaian terhadap anak. Dan 2% kadang-kadang setuju terhadap tindakan pengabaian anak.
- Afektif verbal abuse, yaitu sikap setuju atau tidak pada kekerasan verbal, seperti bentakan, omelan, ancaman, dan penghinaan.
TABEL 9
AFEKTIF VERBAL ABUSE
| No. | Kategori | Jumlah | Frekwensi |
| 1. | Rendah | 64 | 64% |
| 2 | Sedang | 24 | 24% |
| 3. | Tinggi | 12 | 12% |
| | Total | 100 | 100% |
Sumber : kuesioner no.
Dari 100 responden, 64% berkategori rendah artinya tidak setuju dengan tindakan kekerasan yang bersifat verbal, yaitu bentakan, omelan, ancaman, dan penghinaan.
24% responden berkategori sedang, artinya kadang-kadang setuju dan tidak terhadap kekerasan verbal. Hanya 12% responden berkategori tinggi, artinya responden setuju dengan kekerasan verbal.
- Afektif Physical Abuse yaitu kekerasan fisik, seperti cubitan, pemukulan, jeweran telinga.
TABEL 10
AFEKTIF PHYSICAL ABUSE
| No. | Kategori | Jumlah | Frekwensi |
| 1. | Rendah | 66 | 66% |
| 2 | Sedang | 24 | 24% |
| 3. | Tinggi | 10 | 10% |
| | Total | 100 | 100% |
Sumber : kuesioner no.
Dari 100 responden, 66% berkategori rendah, artinya responden tidak setuju dengan kekerasan fisik, seperti cubitan, pemukulan baik dengan tangan maupun alat, jeweran telinga, dan kekerasan seks.
24% berkategori sedang, artinya responden kadang-kadang setuju atau tidak dengan kekerasan fisik. Dan 10% berkategori tinggi, artinya setuju melakukan kekerasan fisik.
Pengaruh Frekuensi Komunikasi Keluarga Terhadap Kekerasan Pada Anak
. Dengan menggunakan rumus product moment, didapat angka koefisien korelasi sebesar -0.299. Kemudian melihat tabel koefisien korelasi diperoleh hasil bahwa korelasi antara variabel frekuensi komunikasi keluarga dengan variabel kekerasan terhadap anak adalah rendah dan mempunyai hubungan negatif. Artinya. semakin tinggi frekuensi komunikasi dalam keluarga semakin rendah kekerasan pada anak.
Untuk melihat apakah variabel frekuensi komunikasi keluarga mempunyai kontribusi terhadap variabel kekerasan pada anak, maka dicari koefisien determinasi atau nilai PRE, didapat hasil nilai PRE sebesar 0, 089. Dengan demikian variabel frekuensi komunikasi keluarga mempunyai kontribusi terhadap kekerasan pada anak sebesar 8,9%.
Penutup
1. Melalui hasil perhitungan korelasi product moment terdapat hubungan antara variabel frekuensi komunikasi keluarga dengan variabel kekerasan pada anak, yaitu sebesar - 0,299. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ada hubungan yang negative antara frekuensi komunikasi keluarga dengan kekerasan pada anak. Artinya semakin tinggi frekuensi komunikasi keluarga, semakin rendah kekerasan pada anak.
2. Kontribusi frekuensi komunikasi keluarga terhadap kekerasan pada anak sebesar 8,9%.
3. Bentuk komunikasi keluarga dalam kekerasan pada anak adalah komunikasi interpersonal baik verbal (bentakan, omelan, hinaan) dan nonverbal (jeweran telinga, pukulan, cubitan, menjambak rambut).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar